Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Penyakit Hati yang Harus Dihindari dalam Islam

5 Penyakit Hati yang Harus Dihindari dalam Islam

Hati merupakan organ penting yang mengendalikan semua fungsi tubuh. Selain itu, hati juga menjadi tempat bersemayamnya iman, akal, dan perasaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga dan membersihkan hati dari segala kotoran dan penyakit yang dapat merusaknya.

Dalam Islam, penyakit hati adalah kondisi hati yang terganggu oleh sifat-sifat buruk yang bertentangan dengan ajaran Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Penyakit hati dapat mempengaruhi keimanan, akhlak, dan amal seseorang. Penyakit hati juga dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan ridha, rahmat, dan surga Allah Subhanahu wa ta’ala.

Berikut adalah lima penyakit hati dalam Islam yang harus dihindari, beserta cara mengobatinya.

1. Riya’ (Pamer)

Riya’ adalah penyakit hati yang terjadi ketika seseorang melakukan ibadah atau amal baik hanya untuk menunjukkan diri atau mendapatkan pujian dari manusia, bukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Riya’ adalah bentuk syirik kecil yang dapat mengurangi atau menghapus pahala ibadah atau amal baik seseorang.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya apa yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apa itu syirik kecil, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu riya’. Pada hari kiamat, Allah Subhanahu wa ta’ala akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya’: ‘Pergilah kepada orang-orang yang kamu riya’kan di dunia, lihatlah apakah kamu mendapatkan pahala dari mereka.’” (HR. Ahmad)

Untuk mengobati riya’, seseorang harus selalu memperbaiki niatnya dalam beribadah atau beramal. Seseorang harus menyadari bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu, dan bahwa hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang berhak memberikan pahala atau siksa. Seseorang juga harus menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan riya’, seperti mencari perhatian, membanggakan diri, atau mengharapkan sanjungan.

2. Hasad (Iri Hati)

Hasad adalah penyakit hati yang terjadi ketika seseorang merasa tidak senang atau tidak rela dengan nikmat, kebaikan, atau keberhasilan yang dimiliki oleh orang lain, dan berharap agar nikmat, kebaikan, atau keberhasilan tersebut hilang dari orang tersebut. 

Hasad adalah sifat yang sangat tercela dan berbahaya, karena dapat merusak hubungan antara sesama muslim dan dapat menyebabkan kerusakan di muka bumi.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kamu saling mendengki, saling membenci, saling berpaling, dan saling membelakangi, dan jadilah hamba Allah yang bersaudara. Sesungguhnya seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, mendustai, dan menghina. Takwa itu di sini (menunjuk dadanya). Cukuplah seseorang itu dianggap jahat jika ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim)

Untuk mengobati hasad, seseorang harus bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, dan tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seseorang harus mengakui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Adil dan Maha Bijaksana dalam memberikan nikmat-Nya kepada hamba-Nya. Seseorang juga harus berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar memberikan kebaikan kepada orang yang diiri hati, dan memohon perlindungan dari godaan syaitan.

3. Takabur (Sombong)

Takabur adalah penyakit hati yang terjadi ketika seseorang merasa lebih tinggi, lebih baik, atau lebih berhak daripada orang lain, baik dalam hal ilmu, harta, jabatan, keturunan, atau lainnya. 

Takabur adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan merupakan akar dari segala dosa. Takabur juga dapat menghalangi seseorang untuk menerima kebenaran, mengakui kesalahan, dan meminta maaf.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

Untuk mengobati takabur, seseorang harus menyadari bahwa semua yang dimilikinya hanyalah pinjaman dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala dapat mengambilnya kapan saja. 

Seseorang harus mengingat bahwa dia adalah makhluk yang lemah, fakir, dan berdosa, yang membutuhkan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala. Seseorang juga harus bersikap rendah hati, tawadhu’, dan santun terhadap sesama makhluk, dan tidak meremehkan atau menghina siapa pun.

4. Ujub (Merasa Soleh)

Ujub adalah penyakit hati yang terjadi ketika seseorang merasa puas atau bangga dengan amal shaleh yang dia lakukan, dan menganggap dirinya lebih soleh atau lebih dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala daripada orang lain. 

Ujub adalah sifat yang dapat mengurangi atau menghapus pahala amal shaleh seseorang, dan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Untuk mengobati ujub, seseorang harus selalu mengingat bahwa amal shaleh yang dia lakukan hanyalah karena pertolongan dan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala, dan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala amal hamba-Nya. 

Seseorang harus mengingat bahwa dia tidak tahu apakah amal shalehnya diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan bahwa dia tidak tahu apa yang menanti di akhirat. Seseorang juga harus selalu memohon ampun dan istighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dan tidak merasa aman dari azab-Nya.

5. Ghibah (Fitnah)

Ghibah adalah penyakit hati yang terjadi ketika seseorang membicarakan aib atau keburukan orang lain di belakangnya, tanpa sepengetahuan atau seizinnya. Ghibah adalah dosa besar yang dapat merusak persaudaraan dan keharmonisan dalam masyarakat. 

Ghibah juga dapat menimbulkan permusuhan, kebencian, dan dendam di antara orang-orang yang terlibat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Tahukah kamu apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Yaitu engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ada yang bertanya: “Bagaimana jika apa yang aku sebutkan itu benar adanya pada dirinya?” Beliau bersabda: “Jika apa yang engkau sebutkan itu benar adanya pada dirinya, maka engkau telah menggunjingnya. Dan jika tidak benar adanya, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Untuk mengobati ghibah, seseorang harus menjaga lisan dan hatinya dari menyebutkan aib atau keburukan orang lain, kecuali untuk tujuan yang syar’i, seperti memberi nasihat, meminta pertolongan, atau melaporkan kezaliman. 

Seseorang harus mengingat bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Mendengar dan Maha Menyaksikan segala perkataan dan perbuatan hamba-Nya. Seseorang harus mengingat bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dia ucapkan dan lakukan, dan bahwa dia akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan amalnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tidaklah diucapkan olehnya suatu perkataan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

“Dan sungguh, Kami telah menjadikan untuk setiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari (kalangan) manusia dan (kalangan) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)

 

Demikianlah lima penyakit hati dalam Islam yang harus dihindari, beserta cara mengobatinya. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala membersihkan hati kita dari segala penyakit yang dapat merusak iman dan akhlak kita. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan hati kita sebagai hati yang bersih, suci, dan bercahaya. Amin.